Nikah? Siapa takut!
Menikah dalam pandangan Islam merupakan tempat berseminya sakinah, mawaddah dan rahmah, tempat memelihara kemuliaan manusia dan keturunannya. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia telah menjadikan dari dirimu sendiri pasangan kamu, agar kamu hidup tenang bersamanya dan Dia jadikan rasa kasih sayang sesama kamu. Sesungguhnya dalam hal itu menjadi pelajaran bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar-Ruum: 21). Salah satu golongan yang berhak ditolong oleh Allah swt. yaitu orang yang menikah karena ingin menjauhkan dirinya dari yang haram. (H.R. Tirmidzi).
Ahli fiqih membagi hukum menikah menjadi 5, yaitu
1.Wajib
Imam Qurtubi menerangkan, bagi pemuda yang mampu menikah, ingin menjaga diri dan agamanya, maka menikah wajib baginya. Hai golongan pemuda! Bila di antara kamu ada yang mampu menikah hendaklah ia menikah, karena nanti matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara (H.R. Bukhari dan Muslim).
2. Sunah
Mayoritas ahli fiqih berpendapat ketika seseorang mampu menikah, dapat menahan dirinya untuk tidak berbuat zina, maka sunah baginya untuk menikah. Ia masih bisa menundanya, tapi tetap membentengi diri dan menjaga kesucian dengan shaum. Firman Allah swt., Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (dirinya) sehingga Allah memampukan mereka dengan karunianya. (Q.S. An-Nuur: 33). Dan bila ia belum mampu menikah, hendaklah ia bershaum karena shaum ibarat perisai. (H.R. Bukhari dan Muslim).
3.Haram
Menikah itu menjadi haram manakala seseorang tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin kepada pasangannya, dan jika pernikahan tersebut akan membahayakan pasangannya. Qurthubhy berkata,Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya atau membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka haram menikah. Begitu pula kalau ia tak mampu menggauli istrinya, maka wajiblah ia menerangkan agar pasangannya tidak tertipu olehnya.
4. Makruh
Hukum menikah menjadi makruh bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi nafkah pada istrinya. Tetapi, bila istri rido akan hal tersebut maka dianggap tidak merugikan istrinya.
5. Mubah
Hukum mubah ini berlaku bagi orang yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkannya segera menikah atau alasan-alasan yang mengharamkannya menikah.
Setelah menikah, setiap orang akan mendapatkan peluang enam tipe keluarga,
1. Keluarga tipe Nabi Nuh a.s., diuji oleh istri (pasangan) dan anak yang tidak saleh, tapi tetap tabah.
Allah swt. mengisahkan doa Nabi Nuh tentang kematian putranya, Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfiman, Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu sesungguhnya (perbuatannya) yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.(Q.S. Hud; 45-46).
Diuji oleh pasangan dan keturunan yang tidak shaleh, bersama di dunia tapi terpisah di akhirat.
2.Keluarga tipe Nabi Ayyub a.s.:
Diuji oleh pasangan yang tidak setia, yang kembali taubat dan dimaafkan.Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.Ã(Q.S. Al-Anbiya: 84).
3.Keluarga tipe Asyiah dan Firaun
Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim (Q.S. At-Tahrim: 11). Doa di atas merupakan permintaan Asyiah istri Firaun, kepada Allah swt. yang kemudian dikabulkan.
Asyiah merupakan cerminan wanita salehah, tegar membela kebenaran, sekalipun kondisi menuntut dirinya merahasiakan perjuangan.
4. Keluarga tipe Abu Lahab
Abu Lahab merupakan paman Nabi Muhammad saw. yang sangat memusuhi dan menyakiti nabi, begitu pula istri Abu Lahab saling tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Q.S. Al-Lahab 111:1-5). Suami istri yang saling menolong dalam kejahatan.
5. Nabi Ibrahim dengan ayahnya Azar.
Walaupun orang tua tidak sejalan dengan anak, tidak jadi alasan anak membenci orang tuanya. Nabi Ibrahim memintakan ampun untuk ayahnya (Q.S. Maryam 47-48) dan firman Allah yang lainnya menerangkan bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Q.S. At-Taubah: 113-114)
6. Keluarga Nabi Muhammad saw. atau Nabi Ibrahim a.s.
Suami, istri, dan anak saling mendukung, teguh dalam beribadah, penghambaan pada Allah swt., amar maruf nahi munkar, dakwah, dan jihad fisabilillah.
Hadapilah harapan dengan iman, maka tidak akan ada rasa takut, tapi mantap mengambil keputusan dalam mengarungi bahtera pernikahan. Selamat menikah semoga Anda Barakah! Amin.
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
SEMUANYA ADA DI SINI.....SD NEGERI 5 BOYOLALI
-
Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ...
-
Masa depan adalah kepastian.............maka belajarlah.........ilmuilah
-
SEKILAS PANDANG SD NEGERI 5 BOYOLALI S ekolah Dasar Negeri 5 Boyolali pada awal berdirinya merupakan sekolah yang didirikan oleh Pemeri...
-
Kata wali adalah sebuah kata yang sudah tidak asing di telinga kita, apalagi jika sudah digandeng bersama dengan kata karomah. Pemahaman mas...
-
HADIRILAH KAJIAN RUTIN BERSAMA USTADZ JAUHARI Lc PENGASUH MA'HAD AL MADINAH BOYOLALI DI MASJID NURUL ISLAM BOYOLALI SETIAP AHAD MAL...
-
Memangkas Jimat, Meluruskan Keyakinan Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganis...
-
BUKU DAKWAH SALAFIYAH DAKWAH BIJAK Oleh Ustadz Abu Ahmad As-Salafi Telah masuk kepada kami dari sebagian pembaca Al-Furqon perihal buku Dakw...
-
SD NEGERI 5 BOYOLALI: SEKILAS PANDANG SD NEGERI 5 BOYOLALI
-
Sandi Pramuka - Tunas Kelapa Pramuka DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
-
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
SD NEGERI 5 BOYOLALI
Minggu, 31 Januari 2010
eranda > DOWNLOAD AUDIO, Pernikahan > Download Audio: Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH (Ust. Abu Zubair al Hawari, Lc.) [BAGUS]
Download Audio: Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH (Ust. Abu Zubair al Hawari, Lc.) [BAGUS]
17 Januari 2010 admin Tinggalkan komentar Go to comments
Alhamdulillah, Silakan download sajian terbaru kami, Download Rekaman Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH (Pembahasan Tuntas Mengenai Hukum-hukum Seputar Pernikahan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang disampaikan oleh Al Ustadz Al Fadhil Abu Zubair Al Hawariy, Lc. hafizhahullahu ta’ala di Masjid Raya Karanganyar. Semoga kajian yang beliau sampaikan pada kajian ini bermanfat, khususnya bagi yang ingin segera menikah atau yang ingin menambah lagi (poligami maksudnya, hehe ^_^). OK, langsung saja menuju lokasi download kami pada link berikut:
Download Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH atau Klik di sini
NB: Insya Allah akan segera kami posting rekaman kajian bedah buku Bagaimana Mengatasi Pertikaian Suami-Istri? bersama Ustadzuna Muslim Atsari hafizhahullahu ta’ala (beliau adalah pengasuh Ma’had Ibnu Abbas As Salafy, Sragen serta staf ahli majalah As Sunnah) maupun rekaman-rekaman kajian menarik lainnya. Semoga dimudahkan oleh Allah.
Rate This
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Download Audio: Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH (Ust. Abu Zubair al Hawari, Lc.) [BAGUS]
17 Januari 2010 admin Tinggalkan komentar Go to comments
Alhamdulillah, Silakan download sajian terbaru kami, Download Rekaman Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH (Pembahasan Tuntas Mengenai Hukum-hukum Seputar Pernikahan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang disampaikan oleh Al Ustadz Al Fadhil Abu Zubair Al Hawariy, Lc. hafizhahullahu ta’ala di Masjid Raya Karanganyar. Semoga kajian yang beliau sampaikan pada kajian ini bermanfat, khususnya bagi yang ingin segera menikah atau yang ingin menambah lagi (poligami maksudnya, hehe ^_^). OK, langsung saja menuju lokasi download kami pada link berikut:
Download Bedah Buku PANDUAN LENGKAP NIKAH atau Klik di sini
NB: Insya Allah akan segera kami posting rekaman kajian bedah buku Bagaimana Mengatasi Pertikaian Suami-Istri? bersama Ustadzuna Muslim Atsari hafizhahullahu ta’ala (beliau adalah pengasuh Ma’had Ibnu Abbas As Salafy, Sragen serta staf ahli majalah As Sunnah) maupun rekaman-rekaman kajian menarik lainnya. Semoga dimudahkan oleh Allah.
Rate This
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
BERSABAR MENGHARAP RIZQI ALLOH SUBHANAHU WATA'ALAA
TERAPI KESUBURAN
1 Februari 2010 admin Tinggalkan komentar Go to comments
Oleh Tim Nukhba Majalah al Mawaddah
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Ustadz, ana (saya) sudah menikah hampir dua tahun tetapi belum dikaruniai anak. Ana (33 th) ibu rumah tangga, sedangkan suami (27 th) bekerja di pertambangan yang suhu udaranya panas. Hasil HSG ana bagus, tetapi suami kualitas dan kuantitasnya kurang bagus. Suami sudah mengkonsumsi obat farmasi Profertil dan Delfaron selama dua bulan, kemudian sudah mengkonsumsi obat herbal selama satu bulan, tetapi ana belum hamil juga. Jazakumullohu khoiron.
(Nur, Kalimantan, 08134747xxxx)
Assalamu’alaikum. Afwan, ana ummahat sudah menikah enam tahun, namun belum dikaruniai walad (anak). Ana punya keluhan tiap haid perut sangat sakit (dilepen, bhs. Jawa), kadang sampai ke dokter. Apa yang harus ana lakukan? Apakah dilep (nyeri haid) adalah kanker kandungan? Perlu diketahui, setiap pekan ana pergi ke Surabaya; apa itu juga penyebabnya?
(Ummu Abdillah, Jombang, 08523173xxxx)
Jawab:
Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh. Ibu Nur dan Ummu Abdillah—semoga dimuliakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kami akan berusaha menjawab pertanyaan anda. Terpaksa kami gabungkan kedua jawaban soal di atas mengingat jenis permasalahannya sama dan keduanya saling melengkapi.
Perlu diketahui, permasalahan mengenai fertilitas/kesuburan merupakan salah satu permasalahan dunia kesehatan yang penuh dengan teka-teki. Terkadang penyebab penyakitnya sudah jelas, namun belum tentu jelas pula hasilnya. Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci di dalam masalah ini. Tak layak bagi pasutri untuk saling menyalahkan, saling memojokkan, dan saling mengungkit-ungkit, karena hal itu tidak akan banyak membawa manfaat, justru dikhawatirkan memperparah keadaan akibat goncangan emosi yang labil, memperburuk kualitas sperma/sel telur.
Wajar jika anda merasa terbebani dengan masalah yang sedang anda alami sekarang, baik pada permasalahan fertilitas ataupun dengan metode pengobatan yang anda jalani, selain membutuhkan waktu yang lama, biayanya pun sangat mahal. Namun sungguh disayangkan, sebagian dari saudara-saudari kita tidak mau mempelajari seluk-beluk dunia fertilitas. Mereka justru mengikuti saran/perkataan orang yang tidak jelas keberadaannya di dunia kesehatan. Padahal jelas-jelas pada zaman sekarang banyak penipuan berkedok penyuluhan, sehingga dengan mudahnya kita mendengar keluhan: “Apa yang disarankan/dikatakan oleh semua orang sudah saya lakukan tetapi sampai sekarang kami belum dikaruniai anak”, atau sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Abdillah di atas.
Tidak hanya orang awam yang kebingungan dalam mengatasi gangguan fertilitas, bahkan hingga para pakar pun mengalami hal yang serupa. Kepincangan-kepincangan metode terapi dalam permasalahan ini terlihat sangat jelas, baik di dalam dunia kedokteran ataupun dunia pengobatan tradisional, semuanya mengalami gangguan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya ialah beranekaragamnya model dan gaya manusia dalam aktivitas suami isteri atau keadaan organ tubuh. Banyaknya kegagalan dalam terapi fertilitas seharusnya semakin menumbuhkan kesadaran bagi pasutri (yang mengalami masalah tersebut) agar semakin bersabar dan lebih tekun di dalam usaha memperbaiki kondisi tubuh.
Sebagaimana isyarat dari dalam tubuh kita, hendaknya kita tidak terlalu tergesa-gesa dan gegabah dalam menentukan langkah. Ingatlah, hanya untuk melihat hasil pengobatan saja, anda tidak mampu untuk melihat secara langsung, paling tidak—minimalnya—dibutuhkan waktu sebulan penuh(1). Yang menjadi permasalahan, apakah obat yang anda minum selama sebulan atau dua bulan itu mampu untuk memperbaiki kerusakan pada rahim anda?! Padahal proses perbaikan yang dilakukan selama sebulan hanya terhitung satu kali perbaikan, ibarat kita minum obat kimia hanya dalam waktu sekali saja. Demikian itu sebagian teka-teki yang belum terpecahkan, bagaikan menangkap ikan yang terlepas dari rombongannya atau laksana mencari jarum dalam tumpukan jerami. Oleh sebab itu, wajar bila Prof. Hembing dalam buku Terapi Pijat Refleksi mengatakan: “Kemandulan bukan merupakan penyakit. Seorang pria dapat mandul, namun ia masih mampu menikmati koitus namun tidak dapat memberikan keturunan kepada pasangannya(2).”
Terlepas dari semua itu, banyak hal yang menyebabkan gangguan fertilitas. Bisa jadi gangguan itu disebabkan oleh kesalahan di dalam tata cara berhubungan atau akibat adanya gangguan kerusakan pada alat genitalia internal ataupun eksternal. Namun mengingat umur pernikahan penanya sudah mencapai dua dan enam tahun, alangkah baiknya jika kami tidak membahas lima model cara untuk mengenali hari subur atau trik-trik yang berhubungan dengan kehidupan suami isteri, karena kami anggap sudah maklum. Merupakan kesalahan yang besar jika anda memilih jalan kesyirikan atau menjatuhkan diri untuk memilih mengkonsumsi obat kuat atau obat pemicu ovulasi. Seandainya anda berpikiran jernih, tentunya anda tidak akan melakukan hal tersebut. Anda sudah mengetahui bahwasanya diri anda telah mengalami gangguan fertilitas, sedangkan masalah fertilitas dikuasai oleh ginjal. Bisa dipastikan jika anda mengalami gangguan fertilitas berarti ginjal anda rusak, sedangkan jika ginjal rusak belum tentu ada gangguan fertilitas. Dari sini dapat diketahui ginjal(3) anda mengalami kerusakan parah. Bisa anda bayangkan, jika anda memaksa ginjal anda bekerja di luar kemampuannya dengan memforsir kerja secara berlebihan dengan meminum obat kuat atau pemicu ovulasi, artinya sama saja anda telah menjauh dari tujuan semula. Akibatnya justru akan memperburuk kualitas dan kuantitas sperma, menjadikan rahim semakin kering dan susah dipulihkan, haid berhenti (menopause), payudara mengecil, hilang nafsu makan, kram, suara berubah, sering pusing, berat badan bertambah, banyak tumbuh rambut, tumbuh jerawat, mual-mual, depresi, rambut rontok, sakit punggung, dan mata kabur.
Kekhawatiran yang lainnya, seandainya anda ‘berhasil’ hamil dalam keadaan seperti ini, banyak gangguan dan permasalahan pada saat mengandung, dan puncaknya anda akan mengalami keguguran berulang karena proses kehamilan dibangun di atas kerusakan atau organ reproduksi dalam keadaan lemah, terutama uterus/rahim. Oleh sebab itu, yang harus anda pikirkan adalah bagaimana agar ginjal anda normal. Perbaikilah kualitas makanan sehingga kebutuhan tubuh akan lemak, karbohidrat, protein, mineral, dan air tercukupi—minimal selama dua bulan. Selanjutnya anda baru boleh mengkonsumsi obat perangsang kesuburan dengan dosis yang sangat kecil. Bisa dengan mengurangi beban kerja ginjal, dengan mengurangi aktivitas hubungan suami isteri, atau kita perbaiki kualitas kerja ginjal dengan ramuan sebagai berikut:
* Keji beling 20%
* Adas 5%
* Daun dewa 25%
* Otot-ototan 20%
* Sembung 30%
Sebaiknya anda keringkan dan tumbuk halus, minum hanya pada waktu makan saja, karena organ ginjal anda baru diperbaiki. Adapun untuk obat perangsang kesuburan, anda bisa membuat ramuan sebagai berikut:
* Adas 15%
* Temulawak 15%
* Pulosari 25%
* Ujung rahap 10%
* Kulit pepaya gantung 20%
* Ketumbar 15%
Sebaiknya anda jadikan serbuk, minum selama 20 hari berturut-turut 3 × sehari.
Ingat, kurangi aktivitas hubungan suami isteri untuk sementara.
Mengenai usia, secara umum ia memiliki pengaruh terhadap fertilitas. Wanita di bawah usia 25 tahun sangat potensial untuk hamil di tahun pertama pernikahan. Ketika usia 25–30 tahun, masa kehamilan lambat sebagai akibat melemahnya alat reproduksi, sehingga biasanya masa yang dibutuhkan sekitar 2–4 tahun dari pernikahan. Sedangkan wanita yang berusia 34–44 tahun memiliki potensi yang amat kecil untuk hamil.
Adapun HSG, ia hanyalah untuk mengetahui kondisi rahim dan untuk menentukan metode terapi selanjutnya. Meskipun demikian, kami tidak menyarankan untuk melakukan HSG ataupun tes-tes lainnya. Di samping biayanya mahal, hasilnya pun belum bisa dipastikan, apalagi caranya sangat tidak layak.
Hawa panas, memiliki hubungan dengan organ ginjal, sedangkan ginjal menguasai sistem fertilitas manusia yang dikenal dengan sebutan “energi keturunan”. Sebenarnya udara yang kita hirup sangat baik untuk proses pembakaran (oksidasi) di dalam paru-paru. Namun jika udara memiliki temperatur yang hangat/panas, tenaga akan cepat terkuras dan mempengaruhi kelemahan pada ginjal. Yang jadi permasalahan bukan pada temperatur udara, melainkan pada organ tubuh anda. Apalah gunanya mengobati ginjal anda jika udara—di lain pihak—memperparah keadaannya. Kami tidak menyarankan anda pindah tempat, tetapi silakan anda obati/lemahkan jantung(4) anda sehingga udara yang panas tidak mengganggu ginjal dan jantung menjadi netral karena ada suplai hawa panas yang menguatkan jantung.
Tentang permasalahan sperma yang kurang bagus, hal itu sangat mudah diperbaiki. Mungkin pada waktu pemeriksaan sang suami gugup/tegang. Telah dimaklumi, sebanyak 3–7 juta sel sperma akan mati apabila seseorang mengalami gangguan emosi. Perbaikan fertilitas pada seorang laki-laki lebih mudah bila dibandingkan dengan perbaikan pada sistem reproduksi perempuan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu faktornya adalah karena matangnya sel sperma hanya membutuhkan waktu tiga hari, tidak seperti perempuan. Yang perlu anda perhatikan selain masalah energi ialah masalah ketegangan emosi. Cara termudah yang bisa anda lakukan untuk memperbaiki kualitas sperma adalah dengan memijat buah pelir. Pijat secara perlahan-lahan, biasanya di bagian sampingnya. Bila dipijat akan terasa sangat sakit dan ngilu ke perut meskipun dipijat pelan. Kurangi konsumsi air es atau makanan yang dingin.
Adapun untuk masalah Ummu Abdillah, semoga Alloh memudahkan urusan anda. Dilepen bukan merupakan penyakit kanker kandungan, namun ia hanyalah satu pertanda bahwa rahim anda belum sempurna, terutama pada ikat rahim bagian atas yang berhubungan dengan perut. Jangan tergesa-gesa untuk mengobatinya karena perbaikannya minimal membutuhkan waktu dua bulan. Dilepen bisa muncul disebabkan pengaruh negatif obat pelancar haid atau karena terlalu capai. Anda bisa mencoba untuk memperbaikinya cukup dengan minum air perasan daun pepaya ataupun lalapannya. Ingat, jangan terlalu banyak.
Seringnya bepergian kerap dihubungkan dengan masalah fertilitas. Namun hal ini hanya disebabkan habisnya energi yang ada dalam tubuh. Sering bepergian tidak menjadi suatu masalah asalkan kondisi anda fit dan ada mahromnya di dalam perjalanan. Namun apabila anda sangat khawatir, sebaiknya anda kurangi karena akan memperburuk kondisi emosional yang bisa menyebabkan kerusakan lebih fatal. Demikianlah yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum. Wallohu A’lam.
__________________________________________________
(1) Yaitu ketika datang waktu siklus haid.
(2) Terapi Pijat Refleksi Kaki, penerbit Milenia Populer, cet. pertama, hlm. 168
(3) Maksudnya seluruh organ yang memiliki hubungan dengan ginjal.
(4) Maksudnya bukan berarti anda harus merusak jantung anda, tetapi mengatur siasat agar ginjal tidak terbebani oleh hawa panas yang ada di tempat kerja, dengan cara mengurangi konsentrasi pada jantung, bisa melalui banyak mengkonsumsi madu atau jinten hitam, ataupun lewat bekam, akupunktur, atau pijat refleksi. Jika anda kebingungan untuk memilih model terapi yang cocok, cobalah terlebih dahulu melalui madu atau jinten hitam. Atau yang paling mudah, silakan anda pijat titik di bawah mata kaki maka otomatis ginjal akan menguat dan jantung akan melemah; namun hasilnya sangat dipengaruhi oleh kualitas pemijatan dan reaksi dari dalam tubuh.
Sumber: http://www.almawaddah.or.id/konsultasi/pengobatan-alami/30-terapi-kesuburan
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
1 Februari 2010 admin Tinggalkan komentar Go to comments
Oleh Tim Nukhba Majalah al Mawaddah
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Ustadz, ana (saya) sudah menikah hampir dua tahun tetapi belum dikaruniai anak. Ana (33 th) ibu rumah tangga, sedangkan suami (27 th) bekerja di pertambangan yang suhu udaranya panas. Hasil HSG ana bagus, tetapi suami kualitas dan kuantitasnya kurang bagus. Suami sudah mengkonsumsi obat farmasi Profertil dan Delfaron selama dua bulan, kemudian sudah mengkonsumsi obat herbal selama satu bulan, tetapi ana belum hamil juga. Jazakumullohu khoiron.
(Nur, Kalimantan, 08134747xxxx)
Assalamu’alaikum. Afwan, ana ummahat sudah menikah enam tahun, namun belum dikaruniai walad (anak). Ana punya keluhan tiap haid perut sangat sakit (dilepen, bhs. Jawa), kadang sampai ke dokter. Apa yang harus ana lakukan? Apakah dilep (nyeri haid) adalah kanker kandungan? Perlu diketahui, setiap pekan ana pergi ke Surabaya; apa itu juga penyebabnya?
(Ummu Abdillah, Jombang, 08523173xxxx)
Jawab:
Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh. Ibu Nur dan Ummu Abdillah—semoga dimuliakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kami akan berusaha menjawab pertanyaan anda. Terpaksa kami gabungkan kedua jawaban soal di atas mengingat jenis permasalahannya sama dan keduanya saling melengkapi.
Perlu diketahui, permasalahan mengenai fertilitas/kesuburan merupakan salah satu permasalahan dunia kesehatan yang penuh dengan teka-teki. Terkadang penyebab penyakitnya sudah jelas, namun belum tentu jelas pula hasilnya. Kesabaran dan ketekunan menjadi kunci di dalam masalah ini. Tak layak bagi pasutri untuk saling menyalahkan, saling memojokkan, dan saling mengungkit-ungkit, karena hal itu tidak akan banyak membawa manfaat, justru dikhawatirkan memperparah keadaan akibat goncangan emosi yang labil, memperburuk kualitas sperma/sel telur.
Wajar jika anda merasa terbebani dengan masalah yang sedang anda alami sekarang, baik pada permasalahan fertilitas ataupun dengan metode pengobatan yang anda jalani, selain membutuhkan waktu yang lama, biayanya pun sangat mahal. Namun sungguh disayangkan, sebagian dari saudara-saudari kita tidak mau mempelajari seluk-beluk dunia fertilitas. Mereka justru mengikuti saran/perkataan orang yang tidak jelas keberadaannya di dunia kesehatan. Padahal jelas-jelas pada zaman sekarang banyak penipuan berkedok penyuluhan, sehingga dengan mudahnya kita mendengar keluhan: “Apa yang disarankan/dikatakan oleh semua orang sudah saya lakukan tetapi sampai sekarang kami belum dikaruniai anak”, atau sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Abdillah di atas.
Tidak hanya orang awam yang kebingungan dalam mengatasi gangguan fertilitas, bahkan hingga para pakar pun mengalami hal yang serupa. Kepincangan-kepincangan metode terapi dalam permasalahan ini terlihat sangat jelas, baik di dalam dunia kedokteran ataupun dunia pengobatan tradisional, semuanya mengalami gangguan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya ialah beranekaragamnya model dan gaya manusia dalam aktivitas suami isteri atau keadaan organ tubuh. Banyaknya kegagalan dalam terapi fertilitas seharusnya semakin menumbuhkan kesadaran bagi pasutri (yang mengalami masalah tersebut) agar semakin bersabar dan lebih tekun di dalam usaha memperbaiki kondisi tubuh.
Sebagaimana isyarat dari dalam tubuh kita, hendaknya kita tidak terlalu tergesa-gesa dan gegabah dalam menentukan langkah. Ingatlah, hanya untuk melihat hasil pengobatan saja, anda tidak mampu untuk melihat secara langsung, paling tidak—minimalnya—dibutuhkan waktu sebulan penuh(1). Yang menjadi permasalahan, apakah obat yang anda minum selama sebulan atau dua bulan itu mampu untuk memperbaiki kerusakan pada rahim anda?! Padahal proses perbaikan yang dilakukan selama sebulan hanya terhitung satu kali perbaikan, ibarat kita minum obat kimia hanya dalam waktu sekali saja. Demikian itu sebagian teka-teki yang belum terpecahkan, bagaikan menangkap ikan yang terlepas dari rombongannya atau laksana mencari jarum dalam tumpukan jerami. Oleh sebab itu, wajar bila Prof. Hembing dalam buku Terapi Pijat Refleksi mengatakan: “Kemandulan bukan merupakan penyakit. Seorang pria dapat mandul, namun ia masih mampu menikmati koitus namun tidak dapat memberikan keturunan kepada pasangannya(2).”
Terlepas dari semua itu, banyak hal yang menyebabkan gangguan fertilitas. Bisa jadi gangguan itu disebabkan oleh kesalahan di dalam tata cara berhubungan atau akibat adanya gangguan kerusakan pada alat genitalia internal ataupun eksternal. Namun mengingat umur pernikahan penanya sudah mencapai dua dan enam tahun, alangkah baiknya jika kami tidak membahas lima model cara untuk mengenali hari subur atau trik-trik yang berhubungan dengan kehidupan suami isteri, karena kami anggap sudah maklum. Merupakan kesalahan yang besar jika anda memilih jalan kesyirikan atau menjatuhkan diri untuk memilih mengkonsumsi obat kuat atau obat pemicu ovulasi. Seandainya anda berpikiran jernih, tentunya anda tidak akan melakukan hal tersebut. Anda sudah mengetahui bahwasanya diri anda telah mengalami gangguan fertilitas, sedangkan masalah fertilitas dikuasai oleh ginjal. Bisa dipastikan jika anda mengalami gangguan fertilitas berarti ginjal anda rusak, sedangkan jika ginjal rusak belum tentu ada gangguan fertilitas. Dari sini dapat diketahui ginjal(3) anda mengalami kerusakan parah. Bisa anda bayangkan, jika anda memaksa ginjal anda bekerja di luar kemampuannya dengan memforsir kerja secara berlebihan dengan meminum obat kuat atau pemicu ovulasi, artinya sama saja anda telah menjauh dari tujuan semula. Akibatnya justru akan memperburuk kualitas dan kuantitas sperma, menjadikan rahim semakin kering dan susah dipulihkan, haid berhenti (menopause), payudara mengecil, hilang nafsu makan, kram, suara berubah, sering pusing, berat badan bertambah, banyak tumbuh rambut, tumbuh jerawat, mual-mual, depresi, rambut rontok, sakit punggung, dan mata kabur.
Kekhawatiran yang lainnya, seandainya anda ‘berhasil’ hamil dalam keadaan seperti ini, banyak gangguan dan permasalahan pada saat mengandung, dan puncaknya anda akan mengalami keguguran berulang karena proses kehamilan dibangun di atas kerusakan atau organ reproduksi dalam keadaan lemah, terutama uterus/rahim. Oleh sebab itu, yang harus anda pikirkan adalah bagaimana agar ginjal anda normal. Perbaikilah kualitas makanan sehingga kebutuhan tubuh akan lemak, karbohidrat, protein, mineral, dan air tercukupi—minimal selama dua bulan. Selanjutnya anda baru boleh mengkonsumsi obat perangsang kesuburan dengan dosis yang sangat kecil. Bisa dengan mengurangi beban kerja ginjal, dengan mengurangi aktivitas hubungan suami isteri, atau kita perbaiki kualitas kerja ginjal dengan ramuan sebagai berikut:
* Keji beling 20%
* Adas 5%
* Daun dewa 25%
* Otot-ototan 20%
* Sembung 30%
Sebaiknya anda keringkan dan tumbuk halus, minum hanya pada waktu makan saja, karena organ ginjal anda baru diperbaiki. Adapun untuk obat perangsang kesuburan, anda bisa membuat ramuan sebagai berikut:
* Adas 15%
* Temulawak 15%
* Pulosari 25%
* Ujung rahap 10%
* Kulit pepaya gantung 20%
* Ketumbar 15%
Sebaiknya anda jadikan serbuk, minum selama 20 hari berturut-turut 3 × sehari.
Ingat, kurangi aktivitas hubungan suami isteri untuk sementara.
Mengenai usia, secara umum ia memiliki pengaruh terhadap fertilitas. Wanita di bawah usia 25 tahun sangat potensial untuk hamil di tahun pertama pernikahan. Ketika usia 25–30 tahun, masa kehamilan lambat sebagai akibat melemahnya alat reproduksi, sehingga biasanya masa yang dibutuhkan sekitar 2–4 tahun dari pernikahan. Sedangkan wanita yang berusia 34–44 tahun memiliki potensi yang amat kecil untuk hamil.
Adapun HSG, ia hanyalah untuk mengetahui kondisi rahim dan untuk menentukan metode terapi selanjutnya. Meskipun demikian, kami tidak menyarankan untuk melakukan HSG ataupun tes-tes lainnya. Di samping biayanya mahal, hasilnya pun belum bisa dipastikan, apalagi caranya sangat tidak layak.
Hawa panas, memiliki hubungan dengan organ ginjal, sedangkan ginjal menguasai sistem fertilitas manusia yang dikenal dengan sebutan “energi keturunan”. Sebenarnya udara yang kita hirup sangat baik untuk proses pembakaran (oksidasi) di dalam paru-paru. Namun jika udara memiliki temperatur yang hangat/panas, tenaga akan cepat terkuras dan mempengaruhi kelemahan pada ginjal. Yang jadi permasalahan bukan pada temperatur udara, melainkan pada organ tubuh anda. Apalah gunanya mengobati ginjal anda jika udara—di lain pihak—memperparah keadaannya. Kami tidak menyarankan anda pindah tempat, tetapi silakan anda obati/lemahkan jantung(4) anda sehingga udara yang panas tidak mengganggu ginjal dan jantung menjadi netral karena ada suplai hawa panas yang menguatkan jantung.
Tentang permasalahan sperma yang kurang bagus, hal itu sangat mudah diperbaiki. Mungkin pada waktu pemeriksaan sang suami gugup/tegang. Telah dimaklumi, sebanyak 3–7 juta sel sperma akan mati apabila seseorang mengalami gangguan emosi. Perbaikan fertilitas pada seorang laki-laki lebih mudah bila dibandingkan dengan perbaikan pada sistem reproduksi perempuan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu faktornya adalah karena matangnya sel sperma hanya membutuhkan waktu tiga hari, tidak seperti perempuan. Yang perlu anda perhatikan selain masalah energi ialah masalah ketegangan emosi. Cara termudah yang bisa anda lakukan untuk memperbaiki kualitas sperma adalah dengan memijat buah pelir. Pijat secara perlahan-lahan, biasanya di bagian sampingnya. Bila dipijat akan terasa sangat sakit dan ngilu ke perut meskipun dipijat pelan. Kurangi konsumsi air es atau makanan yang dingin.
Adapun untuk masalah Ummu Abdillah, semoga Alloh memudahkan urusan anda. Dilepen bukan merupakan penyakit kanker kandungan, namun ia hanyalah satu pertanda bahwa rahim anda belum sempurna, terutama pada ikat rahim bagian atas yang berhubungan dengan perut. Jangan tergesa-gesa untuk mengobatinya karena perbaikannya minimal membutuhkan waktu dua bulan. Dilepen bisa muncul disebabkan pengaruh negatif obat pelancar haid atau karena terlalu capai. Anda bisa mencoba untuk memperbaikinya cukup dengan minum air perasan daun pepaya ataupun lalapannya. Ingat, jangan terlalu banyak.
Seringnya bepergian kerap dihubungkan dengan masalah fertilitas. Namun hal ini hanya disebabkan habisnya energi yang ada dalam tubuh. Sering bepergian tidak menjadi suatu masalah asalkan kondisi anda fit dan ada mahromnya di dalam perjalanan. Namun apabila anda sangat khawatir, sebaiknya anda kurangi karena akan memperburuk kondisi emosional yang bisa menyebabkan kerusakan lebih fatal. Demikianlah yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum. Wallohu A’lam.
__________________________________________________
(1) Yaitu ketika datang waktu siklus haid.
(2) Terapi Pijat Refleksi Kaki, penerbit Milenia Populer, cet. pertama, hlm. 168
(3) Maksudnya seluruh organ yang memiliki hubungan dengan ginjal.
(4) Maksudnya bukan berarti anda harus merusak jantung anda, tetapi mengatur siasat agar ginjal tidak terbebani oleh hawa panas yang ada di tempat kerja, dengan cara mengurangi konsentrasi pada jantung, bisa melalui banyak mengkonsumsi madu atau jinten hitam, ataupun lewat bekam, akupunktur, atau pijat refleksi. Jika anda kebingungan untuk memilih model terapi yang cocok, cobalah terlebih dahulu melalui madu atau jinten hitam. Atau yang paling mudah, silakan anda pijat titik di bawah mata kaki maka otomatis ginjal akan menguat dan jantung akan melemah; namun hasilnya sangat dipengaruhi oleh kualitas pemijatan dan reaksi dari dalam tubuh.
Sumber: http://www.almawaddah.or.id/konsultasi/pengobatan-alami/30-terapi-kesuburan
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
AHLUL HADITS DAN KEUTAMAANNYA
Siapakah Ulama Ahlul Hadits?
Saudara pembaca, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Begitu banyaknya perselisihan di kalangan umat islam. Demikian banyaknya manhaj (metode dalam berpikir, beramal dan berdakwah) dari kelompok-kelompok yang hendak memperbaiki umat ini dan semuanya mengklaim diatas kebenaran, membuat umat islam semakin bingung siapakah sesungguhnya yang bisa dijadikan rujukan, tempat bertanya dan mencari pemecahan masalah dan problematika umat ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan wasiat sekaligus jalan keluarnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku nanti niscaya akan melihat perselisihan yang begitu banyak (dalam memahami agama ini). Oleh karena itu, wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku (jalanku) dan sunnah Khulafa` Ar Rasyidin yang terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah, dan lainnya. Dari shahabat Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Shohih, lihat Irwa`ul Ghalil, hadits no. 2455)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengabarkan tentang sekelompok orang dari umat ini yang beliau memujinya dan merekomendasikannya, dengan sabdanya:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَ لاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menampakkan di atas al haq (kebenaran), tidak memudharatkan mereka orang-orang yang mencerca mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sampai hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, dari shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu)
Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat tahun 181 H) berkata, “Menurutku mereka adalah ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, Al-Khothib Al-Baghdadi, Syarafu Ashabil Hadits, 62)
Al-Imam Ali bin Al-Madini rahimahullah (wafat tahun 234 H) berkata, “Mereka itu adalah ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, At-Tirmidzi, As-Sunan, 4/485)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat tahun 241 H) berkata, “Jika golongan yang mendapat pertolongan itu bukan ulama ahlul hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu” (maksudnya tidak mungkin yang lain lagi, pen). (Atsar Shahih, Al-Hakim, Ma’rifah Ulumul Hadits, 3)
Al-Imam Ahmad bin Sinan rahimahullah (wafat tahun 256 H) berkata, “Mereka adalah ahlul ilmu dan ulama atsar.” (Atsar Shahih, Abu Hatim, Qiwamus Sunnah fil Hujjah, 1/246)
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (wafat tahun 256 H) berkata, “Yakni (mereka tersebut, pen) ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, Al-Khothib Al-Baghdadi, Syarafu Ashabil Hadits, 62)
Sejarah Ulama Ahlul Hadits
Sesungguhnya sudah cukup jelas dan terang telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang qath’i, bahwa ulama ahlul hadits adalah golongan yang sudah ada semenjak zaman kenabian. Awal mula mereka adalah para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (wafat tahun 852 H) berkata: “Ulama ahlul hadits telah sepakat bahwa shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu termasuk shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.” (Al Ishabah, 12/68)
Al-Imam Asy-Sya’bi rahimahullah (seorang imam besar tabi’in/murid shahabat, wafat tahun 110 H) berkata: “Apa yang akan aku hadapi dan apa yang akan aku tinggalkan, tidaklah aku berbicara kecuali dengan apa yang telah disepakati ulama ahlul hadits.” (Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffazh, 1/83)
Al-Imam Ad-Dahlawi rahimahullah berkata: “Didalamnya terdapat dalil yang jelas dan terang bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan generasi yang pertama kali digelari dengan ulama ahlul hadits, karena Asy-Sya’bi rahimahullah telah menjumpai lima ratus orang shahabat radhiyallahu ‘anhum dan mengambil ilmu (hadits) dari mereka. Oleh karena itulah, ia menyebut mereka dengan gelar tersebut dengan ucapannya, “Tidaklah aku berbicara kecuali dengan apa yang telah disepakati ulama ahlul hadits (para shahabat radhiyallahu ‘anhum).” (Tarikh Ahli Hadits, 25)
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapatlah diketahui bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum generasi yang pertama kali dijuluki sebagai “ulama ahlul hadits”. Para tabi’in dan para pengikutnya pun menyebut mereka sebagai ulama ahlul hadits. Senantiasa nama yang mulia ini dilekatkan pada ulama ahlul hadits dari generasi ke generasi sampai masa kita ini. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamïn…
Keutamaan-keutamaan Ulama Ahlul Hadits
1. Ulama Ahlul Hadits adalah Al-Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat) dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan)
Ini berdasarkan hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu di atas, hadits ini menguatkan keberadaan satu golongan yang akan tertolong sepanjang masa. Golongan ini adalah para ulama ahlul hadits (sebagaimana keterangan diatas) yang selamat dari perpecahan, perselisihan, dan kerugian di dunia, serta selamat dari panasnya api neraka yang merupakan tempat kembalinya tujuh puluh dua golongan yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
« تَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ ثَلاَثَةٌ وَسَبْعِينَ فِرقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ » . قَالُوا : وَمَا تِلْكَ الفِرْقَةُ ؟ قَالَ : « مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي »
“…Umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk An-Nar (neraka), kecuali satu.” Para shahabat bertanya: “Siapakah golongan tersebut, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan kondisi para shahabatku pada hari ini” (yakni kondisi keberagamaan mereka atau cara memahami agama mereka, pen). (HR. At-Thabarani, Ash-Shaghir, 1/256)
karena semua kelompok tersebut (kecuali satu) telah keluar dari jalan Al-Haq, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
Ibnu Muflih rahimahullah berkata: “Ulama ahlul hadits adalah golongan yang selamat, orang-orang yang berdiri diatas kebenaran.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 3/237)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat tahun 728 H) berkata: “Jika sifat golongan yang selamat itu (adalah) mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -dan itu merupakan syi’ar Ahlus Sunnah-, maka golongan yang selamat itu adalah Ahlus Sunnah.” (Minhajus Sunnah, 3/457)
2. Imam Ulama Ahlul Hadits adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
“(Ingatlah) suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil tiap umat bersama pemimpin mereka.” (Al-Isra`: 71)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat tahun 774 H) berkata: “Sebagian salaf mengomentari ayat diatas: “Ini adalah sebesar-besar kemuliaan untuk ashabul hadits (ulama ahlul hadits), karena imam mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur`an, 2/56)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) berkata: “Apabila aku melihat seseorang dari ulama ahlul hadits seakan-akan aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.” (Atsar Shahih Al-Baihaqi, Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i, 1/477)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Aqidah ulama ahlul hadits adalah sunnah yang murni, karena itu merupakan keyakinan yang benar yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Minhajus Sunnah, 4/59-60)
Beliau rahimahullah juga berkata: “Ciri-ciri paling minimal yang terdapat pada ulama ahlul hadits ialah mencintai Al-Qur`an dan Hadits, membahas dan mendalami makna-makna keduanya, beramal dengan apa yang telah mereka ketahui dari keduanya. Dan fuqaha` hadits lebih mengerti dan berpengalaman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari fuqaha` selain mereka.” (Majmu’ Fatawa, 4/95)
3. Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memuliakan, menghormati dan mencintai Ulama Ahlul Hadits
Dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, apabila melihat seorang penuntut ilmu -yakni ulama ahlul hadits- ia berkata: “Marhaban! Selamat bergembira dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Atsar Hasan, riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya)
Beliau radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Marhaban dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Adalah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiati kami tentang kalian.” (Atsar Hasan, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/88)
Amir bin Ibrohim rahimahullah berkata: “Adalah shahabat Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu apabila melihat penuntut ilmu ia mengatakan, “Marhaban dengan penuntut ilmu! Dan ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat tentang kalian.” (Atsar Hasan, Ad-Darimi dalam Al-Musnad, 1/99)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengagungkan ulama ahlul hadits, maka ia akan menjadi besar di mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang merendahkan mereka, maka ia akan jatuh dan hina di mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ulama ahlul hadits adalah para penyampai berita beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (dinukil oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Manaqib Al-Imam Ahmad bin Hanbal, 180)
4. Kebenaran bersama Ulama Ahlul Hadits
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Wajib bagi kalian mengikuti ulama ahlul hadits karena merekalah manusia yang paling banyak benarnya.” (Atsar Shahih, Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, 14/197)
Beliau rahimahullah juga berkata: “Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur`an, maka besarlah nilainya. Dan barangsiapa yang memperhatikan ilmu fiqih, maka mulialah kedudukannya. Dan barangsiapa yang menulis hadits, maka kuatlah hujjah-nya.” (Atsar Shahih, Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, 324, dan Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i, 1/281)
Al-Walid Al-Karabisi rahimahullah berkata: “Wajib atas kalian berpegang dengan apa yang dipegang ulama ahlul hadits. Sesungguhnya aku melihat kebenaran itu selalu bersama mereka.”
Ad-Dahlawi rahimahullah berkata: “Kebenaran itu bersama ulama ahlul hadits dan mereka adalah golongan yang selamat.” (Tarikh Ulama ahlul hadits, 130)
5. Ulama Ahlul Hadits adalah Pengayom dan Penjaga Agama
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (salah seorang ulama tabi’ut tabi’in, wafat tahun 161 H) berkata: “Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ulama ahlul hadits adalah para penjaga bumi.”
Yazid bin Zura’i rahimahullah berkata: “Setiap agama memiliki para penjaga, dan penjaga agama ini adalah ulama asanid (yakni ulama ahlul hadits).” (Atsar Hasan, dinukil oleh Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah dalam Syarafu Ashabil Hadits, 91)
6. Empat Imam Madzhab adalah ulama (ahlul) hadits
* Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi rahimahullah (wafat tahun 150 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Malik bin Anas Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 179 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 204 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani rahimahullah (wafat tahun 241 H)
7. Kecintaan terhadap Ulama ahlul hadits sebagai Tolok Ukur seorang Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni-Atsari)
Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata: “Apabila kamu menjumpai seseorang yang mencintai ahul hadits, maka ketahuilah sesungguhnya ia berada diatas sunnah. Dan barangsiapa menyelisihi hal ini, ketahuilah bahwa ia adalah seorang ahli bid’ah.” (Atsar Shahih, Al-Lalikai dalam Al-I’tiqad, 1/67)
Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah (wafat 277 H) berkata: “Ciri-ciri ahlul bid’ah ialah membenci ahlul atsar (ulama ahlul hadits -pen).” (Atsar Shahih, Al-Lalikai dalam Al-I’tiqad, 2/179)
Al-Imam Ahmad bin Sinan Al-Qaththan rahimahullah (wafat 256 H) berkata: “Tidak ada di dunia seorang ahlul bid’ah pun kecuali ia membenci ulama ahlul hadits, maka apabila seseorang telah terjerumus kedalam perbuatan bid’ah, maka dicabutlah manisnya hadits dari hatinya.” (Atsar Shahih, Al-Hakim dalam Ma’rifah ‘Ulumul Hadits, hal. 5)
Abu Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Ciri-ciri ahlul bid’ah sangatlah nyata, dan yang paling nampak ialah kebencian dan permusuhan mereka terhadap ulama ahlul hadits, serta pelecehan mereka terhadap ulama ahlul hadits.” (Al-I’tiqad, hal. 116)
Penutup
Para pembaca, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan kepada kita kecintaan kepada ilmu hadits, para ulama ahlul hadits, dan orang-orang yang senantiasa berusaha meniti jejak mereka, menilai, menimbang, memutuskan, dan mengembalikan segala permasalahan umat ini kepada ahlinya, yaitu ulama ahlul hadits, sehingga ucapan dan amalan-amalan kita terbimbing diatas ilmu.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati para ulama ahlul hadits dari kalangan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan yang setelah mereka hingga yang ada pada masa kini; mengampuni kekurangan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam jannah (surga-Nya. Amïn…
Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.
Saudara pembaca, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Begitu banyaknya perselisihan di kalangan umat islam. Demikian banyaknya manhaj (metode dalam berpikir, beramal dan berdakwah) dari kelompok-kelompok yang hendak memperbaiki umat ini dan semuanya mengklaim diatas kebenaran, membuat umat islam semakin bingung siapakah sesungguhnya yang bisa dijadikan rujukan, tempat bertanya dan mencari pemecahan masalah dan problematika umat ini.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan wasiat sekaligus jalan keluarnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup sepeninggalku nanti niscaya akan melihat perselisihan yang begitu banyak (dalam memahami agama ini). Oleh karena itu, wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku (jalanku) dan sunnah Khulafa` Ar Rasyidin yang terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah, dan lainnya. Dari shahabat Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Shohih, lihat Irwa`ul Ghalil, hadits no. 2455)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengabarkan tentang sekelompok orang dari umat ini yang beliau memujinya dan merekomendasikannya, dengan sabdanya:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَ لاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menampakkan di atas al haq (kebenaran), tidak memudharatkan mereka orang-orang yang mencerca mereka dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka sampai hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, dari shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu)
Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat tahun 181 H) berkata, “Menurutku mereka adalah ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, Al-Khothib Al-Baghdadi, Syarafu Ashabil Hadits, 62)
Al-Imam Ali bin Al-Madini rahimahullah (wafat tahun 234 H) berkata, “Mereka itu adalah ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, At-Tirmidzi, As-Sunan, 4/485)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat tahun 241 H) berkata, “Jika golongan yang mendapat pertolongan itu bukan ulama ahlul hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka itu” (maksudnya tidak mungkin yang lain lagi, pen). (Atsar Shahih, Al-Hakim, Ma’rifah Ulumul Hadits, 3)
Al-Imam Ahmad bin Sinan rahimahullah (wafat tahun 256 H) berkata, “Mereka adalah ahlul ilmu dan ulama atsar.” (Atsar Shahih, Abu Hatim, Qiwamus Sunnah fil Hujjah, 1/246)
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (wafat tahun 256 H) berkata, “Yakni (mereka tersebut, pen) ulama ahlul hadits.” (Atsar Shahih, Al-Khothib Al-Baghdadi, Syarafu Ashabil Hadits, 62)
Sejarah Ulama Ahlul Hadits
Sesungguhnya sudah cukup jelas dan terang telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang qath’i, bahwa ulama ahlul hadits adalah golongan yang sudah ada semenjak zaman kenabian. Awal mula mereka adalah para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (wafat tahun 852 H) berkata: “Ulama ahlul hadits telah sepakat bahwa shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu termasuk shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.” (Al Ishabah, 12/68)
Al-Imam Asy-Sya’bi rahimahullah (seorang imam besar tabi’in/murid shahabat, wafat tahun 110 H) berkata: “Apa yang akan aku hadapi dan apa yang akan aku tinggalkan, tidaklah aku berbicara kecuali dengan apa yang telah disepakati ulama ahlul hadits.” (Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffazh, 1/83)
Al-Imam Ad-Dahlawi rahimahullah berkata: “Didalamnya terdapat dalil yang jelas dan terang bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan generasi yang pertama kali digelari dengan ulama ahlul hadits, karena Asy-Sya’bi rahimahullah telah menjumpai lima ratus orang shahabat radhiyallahu ‘anhum dan mengambil ilmu (hadits) dari mereka. Oleh karena itulah, ia menyebut mereka dengan gelar tersebut dengan ucapannya, “Tidaklah aku berbicara kecuali dengan apa yang telah disepakati ulama ahlul hadits (para shahabat radhiyallahu ‘anhum).” (Tarikh Ahli Hadits, 25)
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapatlah diketahui bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum generasi yang pertama kali dijuluki sebagai “ulama ahlul hadits”. Para tabi’in dan para pengikutnya pun menyebut mereka sebagai ulama ahlul hadits. Senantiasa nama yang mulia ini dilekatkan pada ulama ahlul hadits dari generasi ke generasi sampai masa kita ini. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamïn…
Keutamaan-keutamaan Ulama Ahlul Hadits
1. Ulama Ahlul Hadits adalah Al-Firqatun Najiyyah (kelompok yang selamat) dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan)
Ini berdasarkan hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu di atas, hadits ini menguatkan keberadaan satu golongan yang akan tertolong sepanjang masa. Golongan ini adalah para ulama ahlul hadits (sebagaimana keterangan diatas) yang selamat dari perpecahan, perselisihan, dan kerugian di dunia, serta selamat dari panasnya api neraka yang merupakan tempat kembalinya tujuh puluh dua golongan yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
« تَفْتَرِقُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ ثَلاَثَةٌ وَسَبْعِينَ فِرقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ » . قَالُوا : وَمَا تِلْكَ الفِرْقَةُ ؟ قَالَ : « مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي »
“…Umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk An-Nar (neraka), kecuali satu.” Para shahabat bertanya: “Siapakah golongan tersebut, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang kondisinya seperti kondisiku dan kondisi para shahabatku pada hari ini” (yakni kondisi keberagamaan mereka atau cara memahami agama mereka, pen). (HR. At-Thabarani, Ash-Shaghir, 1/256)
karena semua kelompok tersebut (kecuali satu) telah keluar dari jalan Al-Haq, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
Ibnu Muflih rahimahullah berkata: “Ulama ahlul hadits adalah golongan yang selamat, orang-orang yang berdiri diatas kebenaran.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 3/237)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat tahun 728 H) berkata: “Jika sifat golongan yang selamat itu (adalah) mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -dan itu merupakan syi’ar Ahlus Sunnah-, maka golongan yang selamat itu adalah Ahlus Sunnah.” (Minhajus Sunnah, 3/457)
2. Imam Ulama Ahlul Hadits adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
“(Ingatlah) suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil tiap umat bersama pemimpin mereka.” (Al-Isra`: 71)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat tahun 774 H) berkata: “Sebagian salaf mengomentari ayat diatas: “Ini adalah sebesar-besar kemuliaan untuk ashabul hadits (ulama ahlul hadits), karena imam mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al-Qur`an, 2/56)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) berkata: “Apabila aku melihat seseorang dari ulama ahlul hadits seakan-akan aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.” (Atsar Shahih Al-Baihaqi, Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i, 1/477)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Aqidah ulama ahlul hadits adalah sunnah yang murni, karena itu merupakan keyakinan yang benar yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Minhajus Sunnah, 4/59-60)
Beliau rahimahullah juga berkata: “Ciri-ciri paling minimal yang terdapat pada ulama ahlul hadits ialah mencintai Al-Qur`an dan Hadits, membahas dan mendalami makna-makna keduanya, beramal dengan apa yang telah mereka ketahui dari keduanya. Dan fuqaha` hadits lebih mengerti dan berpengalaman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari fuqaha` selain mereka.” (Majmu’ Fatawa, 4/95)
3. Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memuliakan, menghormati dan mencintai Ulama Ahlul Hadits
Dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, apabila melihat seorang penuntut ilmu -yakni ulama ahlul hadits- ia berkata: “Marhaban! Selamat bergembira dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Atsar Hasan, riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya)
Beliau radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Marhaban dengan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Adalah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiati kami tentang kalian.” (Atsar Hasan, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/88)
Amir bin Ibrohim rahimahullah berkata: “Adalah shahabat Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu apabila melihat penuntut ilmu ia mengatakan, “Marhaban dengan penuntut ilmu! Dan ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat tentang kalian.” (Atsar Hasan, Ad-Darimi dalam Al-Musnad, 1/99)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Barangsiapa mengagungkan ulama ahlul hadits, maka ia akan menjadi besar di mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang merendahkan mereka, maka ia akan jatuh dan hina di mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ulama ahlul hadits adalah para penyampai berita beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (dinukil oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Manaqib Al-Imam Ahmad bin Hanbal, 180)
4. Kebenaran bersama Ulama Ahlul Hadits
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Wajib bagi kalian mengikuti ulama ahlul hadits karena merekalah manusia yang paling banyak benarnya.” (Atsar Shahih, Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, 14/197)
Beliau rahimahullah juga berkata: “Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur`an, maka besarlah nilainya. Dan barangsiapa yang memperhatikan ilmu fiqih, maka mulialah kedudukannya. Dan barangsiapa yang menulis hadits, maka kuatlah hujjah-nya.” (Atsar Shahih, Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, 324, dan Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i, 1/281)
Al-Walid Al-Karabisi rahimahullah berkata: “Wajib atas kalian berpegang dengan apa yang dipegang ulama ahlul hadits. Sesungguhnya aku melihat kebenaran itu selalu bersama mereka.”
Ad-Dahlawi rahimahullah berkata: “Kebenaran itu bersama ulama ahlul hadits dan mereka adalah golongan yang selamat.” (Tarikh Ulama ahlul hadits, 130)
5. Ulama Ahlul Hadits adalah Pengayom dan Penjaga Agama
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (salah seorang ulama tabi’ut tabi’in, wafat tahun 161 H) berkata: “Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ulama ahlul hadits adalah para penjaga bumi.”
Yazid bin Zura’i rahimahullah berkata: “Setiap agama memiliki para penjaga, dan penjaga agama ini adalah ulama asanid (yakni ulama ahlul hadits).” (Atsar Hasan, dinukil oleh Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah dalam Syarafu Ashabil Hadits, 91)
6. Empat Imam Madzhab adalah ulama (ahlul) hadits
* Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi rahimahullah (wafat tahun 150 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Malik bin Anas Al-Ashbahani rahimahullah (wafat tahun 179 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah (wafat tahun 204 H)
* Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani rahimahullah (wafat tahun 241 H)
7. Kecintaan terhadap Ulama ahlul hadits sebagai Tolok Ukur seorang Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni-Atsari)
Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata: “Apabila kamu menjumpai seseorang yang mencintai ahul hadits, maka ketahuilah sesungguhnya ia berada diatas sunnah. Dan barangsiapa menyelisihi hal ini, ketahuilah bahwa ia adalah seorang ahli bid’ah.” (Atsar Shahih, Al-Lalikai dalam Al-I’tiqad, 1/67)
Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah (wafat 277 H) berkata: “Ciri-ciri ahlul bid’ah ialah membenci ahlul atsar (ulama ahlul hadits -pen).” (Atsar Shahih, Al-Lalikai dalam Al-I’tiqad, 2/179)
Al-Imam Ahmad bin Sinan Al-Qaththan rahimahullah (wafat 256 H) berkata: “Tidak ada di dunia seorang ahlul bid’ah pun kecuali ia membenci ulama ahlul hadits, maka apabila seseorang telah terjerumus kedalam perbuatan bid’ah, maka dicabutlah manisnya hadits dari hatinya.” (Atsar Shahih, Al-Hakim dalam Ma’rifah ‘Ulumul Hadits, hal. 5)
Abu Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Ciri-ciri ahlul bid’ah sangatlah nyata, dan yang paling nampak ialah kebencian dan permusuhan mereka terhadap ulama ahlul hadits, serta pelecehan mereka terhadap ulama ahlul hadits.” (Al-I’tiqad, hal. 116)
Penutup
Para pembaca, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan kepada kita kecintaan kepada ilmu hadits, para ulama ahlul hadits, dan orang-orang yang senantiasa berusaha meniti jejak mereka, menilai, menimbang, memutuskan, dan mengembalikan segala permasalahan umat ini kepada ahlinya, yaitu ulama ahlul hadits, sehingga ucapan dan amalan-amalan kita terbimbing diatas ilmu.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati para ulama ahlul hadits dari kalangan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan yang setelah mereka hingga yang ada pada masa kini; mengampuni kekurangan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam jannah (surga-Nya. Amïn…
Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.
INFO DAUROH
DA'WAH SALAFIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Dowroh Magetan
7 Jan 2010 Author: admin In: Aqidah, Info Dakwah, Info Douroh, Manhaj, Terbaru, Umum
Bismillah.
Hadirilah, Majlis Ilmu bersama Al-Ustadz Aly Abbas, Makasar (Murid Imam Muqbil, 7 th di Darul Hadits Dammaj) dengan tema dari pembahasan kitab:
AL-FIQHU FIDDIYN WAL ‘ISHMATU MINAL FITAN, karya Syaykh Sholih Fawzan Al-Fawzan, Insyaa Allaah, akan diadakan pada hari:
· Ahad: Tanggal 15 Shofar 1431H/31 January 2010 jam 8 pagi, di Masjid Al-Amin, Jalan Thamrin (Kompleks SD Muhi), Magetan, Jawa Timur
Sumber: Abu Hanifah, Magetan.
Baarokallaahu fiykum,
Abu Zaid: 0812773199
Dowroh Magetan
7 Jan 2010 Author: admin In: Aqidah, Info Dakwah, Info Douroh, Manhaj, Terbaru, Umum
Bismillah.
Hadirilah, Majlis Ilmu bersama Al-Ustadz Aly Abbas, Makasar (Murid Imam Muqbil, 7 th di Darul Hadits Dammaj) dengan tema dari pembahasan kitab:
AL-FIQHU FIDDIYN WAL ‘ISHMATU MINAL FITAN, karya Syaykh Sholih Fawzan Al-Fawzan, Insyaa Allaah, akan diadakan pada hari:
· Ahad: Tanggal 15 Shofar 1431H/31 January 2010 jam 8 pagi, di Masjid Al-Amin, Jalan Thamrin (Kompleks SD Muhi), Magetan, Jawa Timur
Sumber: Abu Hanifah, Magetan.
Baarokallaahu fiykum,
Abu Zaid: 0812773199
Nasehat Syaikh Ali –Hafidhohulallah
Nasehat Syaikh Ali –Hafidhohulallah- kepada Salafiyyin ketika beliau berkunjung ke Masjid Khodijah Makasar pada tanggal 18 Febuari 2006.
Pertanyaan:
Kami meminta nasehat kepada Syaikh tentang keadaan para duat salafiyyin yang mereka saling berselisih, satu sama lain saling mentahdzir disebabkan karena persoalan yang kurang jelas??
Jawaban:
Berkata Syaikh: "Saya yakin bahwa kebanyakan permasalahan yang terjadi diantara saudara-saudara kita sesama salafi sebabnya adalah penyakit jiwa dan hati(Hal ini seperti yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani tentang diri beliau : "Sesungguhnya aku terdholimi oleh kebanyakan orang yang mengaku memiliki ilmu dan diantara mereka (kemungkinan) sama-sama berada di atas manhaj salaf. Jika demikian perkaranya maka orang tersebut telah termakan hatinya oleh rasa dengki dan hasad. "Muhadditsul 'Ashr Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani" oleh Syikh Samir az-Zuhairy hal. 49,- Red). Seandainya mereka mau mengamalkan sabda Nabi : Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Maka akan sempitlah ruang perselisihan diantara mereka akan tetapi kenyataan yang ada mereka saling tuduh menuduh tanpa bukti dan meneliti, serta tanpa adanya semangat untuk memberi hidayah dan taufik.
Akan tetapi seandainya tuduhan-tuduhan ini dibahas kembali dan diteliti sebelum disebar luaskan, lalu satu sama lainnya saling menghubungi (menasehati) dengan tujuan untuk menghilangkan perselisihan dan saling memberi hidayah serta dalam rangka menyatukan kalimat dan hati maka ini adalah sebab lain disempitkannya ruang perselisihan.
Kalau seandainya perselisihan ini diangkat dengan segala dalil dan bukti kepada ahli ilmu yang ikhlas, maka ucapan-ucapan mereka akan dapat memperbaiki menyatukan perpecahan. Kita berbicara disini sekarang tentang salafiyin yang memiliki metode dakwah yang jelas, kita tidak berbicara tentang sururiyyin, takfiriyyin, dan hizbiyyin. Adapun mereka ini maka pembahasannya ditempat yang lain. Kita berbicara disini tentang orang-orang yang mengibarkan manhaj salaf dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan yang menyelisihinya sebagai malapetaka dan kehancuran.
Mereka yang menyelisihi manhaj ini bukan termasuk golongan kita dan kita bukan termasuk golongan mereka, namun kita menginginkan agar mereka mau kembali ke jalan kebenaran dan metode yang benar. Akan tetapi (Allah berfirman, yang artinya) "Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk" (Al-Baqoroh : 272). "Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur'an)" (Al-Kahfi: 6)
Kita hanya berdoa dan bertawakkal kepada Allah yang Maha memberi taufiq.
Nasehatku yang muncul dari lubuk hati terdalam bagi saudara-saudara kita salafiyyin yang masih berselisih agar mereka saling memberi udzur tapi bukan berarti kita membiarkan kesalahan namun hendaklah mereka saling nasehat-menasehati diatas kebenaran dan kesabaran serta diiringin rasa kasih sayang dan kelemah lembutan sebagaimana firman Allah (yang artinya) : "Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (Al-Ashr : 3). "Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang" (Al-Balad : 17)
Kebenaran, kesabaran dan kasih sayang adalah pengikat tali persaudaraan dan cahaya bagi ukhuwah islamiyyah diantara mereka. Adapun memata-matai, mencari-cari kesalahan memboikot dan salin memnuduh dan bermusuhan serta mentahdzir tanpa bukti yang benar dan tanpa nasehat maka ini perbuatan orang-orang yang tidak mengetahui manhaj salaf kecuali hurufnya saja dan tidak mengenal adab islam kecuali namanya saja.
Maraji':
Adz-Dzakhirah edisi 19 thn IV
Sumber: www.salafindo.com
Pertanyaan:
Kami meminta nasehat kepada Syaikh tentang keadaan para duat salafiyyin yang mereka saling berselisih, satu sama lain saling mentahdzir disebabkan karena persoalan yang kurang jelas??
Jawaban:
Berkata Syaikh: "Saya yakin bahwa kebanyakan permasalahan yang terjadi diantara saudara-saudara kita sesama salafi sebabnya adalah penyakit jiwa dan hati(Hal ini seperti yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani tentang diri beliau : "Sesungguhnya aku terdholimi oleh kebanyakan orang yang mengaku memiliki ilmu dan diantara mereka (kemungkinan) sama-sama berada di atas manhaj salaf. Jika demikian perkaranya maka orang tersebut telah termakan hatinya oleh rasa dengki dan hasad. "Muhadditsul 'Ashr Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani" oleh Syikh Samir az-Zuhairy hal. 49,- Red). Seandainya mereka mau mengamalkan sabda Nabi : Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Maka akan sempitlah ruang perselisihan diantara mereka akan tetapi kenyataan yang ada mereka saling tuduh menuduh tanpa bukti dan meneliti, serta tanpa adanya semangat untuk memberi hidayah dan taufik.
Akan tetapi seandainya tuduhan-tuduhan ini dibahas kembali dan diteliti sebelum disebar luaskan, lalu satu sama lainnya saling menghubungi (menasehati) dengan tujuan untuk menghilangkan perselisihan dan saling memberi hidayah serta dalam rangka menyatukan kalimat dan hati maka ini adalah sebab lain disempitkannya ruang perselisihan.
Kalau seandainya perselisihan ini diangkat dengan segala dalil dan bukti kepada ahli ilmu yang ikhlas, maka ucapan-ucapan mereka akan dapat memperbaiki menyatukan perpecahan. Kita berbicara disini sekarang tentang salafiyin yang memiliki metode dakwah yang jelas, kita tidak berbicara tentang sururiyyin, takfiriyyin, dan hizbiyyin. Adapun mereka ini maka pembahasannya ditempat yang lain. Kita berbicara disini tentang orang-orang yang mengibarkan manhaj salaf dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan yang menyelisihinya sebagai malapetaka dan kehancuran.
Mereka yang menyelisihi manhaj ini bukan termasuk golongan kita dan kita bukan termasuk golongan mereka, namun kita menginginkan agar mereka mau kembali ke jalan kebenaran dan metode yang benar. Akan tetapi (Allah berfirman, yang artinya) "Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk" (Al-Baqoroh : 272). "Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur'an)" (Al-Kahfi: 6)
Kita hanya berdoa dan bertawakkal kepada Allah yang Maha memberi taufiq.
Nasehatku yang muncul dari lubuk hati terdalam bagi saudara-saudara kita salafiyyin yang masih berselisih agar mereka saling memberi udzur tapi bukan berarti kita membiarkan kesalahan namun hendaklah mereka saling nasehat-menasehati diatas kebenaran dan kesabaran serta diiringin rasa kasih sayang dan kelemah lembutan sebagaimana firman Allah (yang artinya) : "Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (Al-Ashr : 3). "Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang" (Al-Balad : 17)
Kebenaran, kesabaran dan kasih sayang adalah pengikat tali persaudaraan dan cahaya bagi ukhuwah islamiyyah diantara mereka. Adapun memata-matai, mencari-cari kesalahan memboikot dan salin memnuduh dan bermusuhan serta mentahdzir tanpa bukti yang benar dan tanpa nasehat maka ini perbuatan orang-orang yang tidak mengetahui manhaj salaf kecuali hurufnya saja dan tidak mengenal adab islam kecuali namanya saja.
Maraji':
Adz-Dzakhirah edisi 19 thn IV
Sumber: www.salafindo.com
JAUHI VALENTIN DAY....!!!!!!!!!!!!!!!
Menyorot Perayaan Valentine’s Day
Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.
Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagipara pemuja nafsu.
Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah "Valentine Days" (Hari Kasih Sayang?).
* Definisi Valentine Days
Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri defenisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan defenesi Valentine di tiga tempat :
* Ensiklopedia Amerika (volume XIII/hal. 464) menyatakan, "Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M".
* Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, "Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)".
* Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), "Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama".
* Sejarah Singkat Valentine Days
Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.
Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!
Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.
Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan "Valentine Days"
Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.
* Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days
Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah -Ta’ala- . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :
* Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir
Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan manhaj (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, "Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global".[Lihat Al-Iqtidho' (hal.186)].
Ikut merayakan Valentine Days termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut". [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu'ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho'iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)].
Seorang Ulama Mesir,Syaikh Ali Mahfuzh-rahimahullah- berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, "Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, "Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka". Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani". Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka". [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa'id Al-Khudriy -radhiyallahu 'anhu-]".[Lihat Al-Ibda' fi Madhorril Ibtida' (hal. 254-255)]
Namun disayangkan, Sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan Valentine Days. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan.Kita Cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.
* Pengantar Menuju Maksiat dan Zina
Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (ValentineDays) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.
Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra’ : 32)
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
"Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4935), dan Muslim dalam Shohih-nya (1241)] .
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ
"Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya". [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (486). Di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (226)]
* Menciptakan Hari Rari Raya
Merayakan Velentine Days berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih -nya (2697)dan Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Allah -Ta’ala- telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,
"Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (QS.Al-Maidah :3 ).
Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,
قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)] .
Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim-hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, "Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu ".[Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada'at fi Al-Ibadat (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]
Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan Valentine Days ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.
Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagipara pemuja nafsu.
Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah "Valentine Days" (Hari Kasih Sayang?).
* Definisi Valentine Days
Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri defenisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan defenesi Valentine di tiga tempat :
* Ensiklopedia Amerika (volume XIII/hal. 464) menyatakan, "Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M".
* Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, "Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)".
* Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), "Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama".
* Sejarah Singkat Valentine Days
Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.
Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!
Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.
Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan "Valentine Days"
Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.
* Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days
Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah -Ta’ala- . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :
* Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir
Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan manhaj (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, "Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global".[Lihat Al-Iqtidho' (hal.186)].
Ikut merayakan Valentine Days termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut". [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu'ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho'iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)].
Seorang Ulama Mesir,Syaikh Ali Mahfuzh-rahimahullah- berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, "Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, "Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka". Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani". Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka". [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa'id Al-Khudriy -radhiyallahu 'anhu-]".[Lihat Al-Ibda' fi Madhorril Ibtida' (hal. 254-255)]
Namun disayangkan, Sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan Valentine Days. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan.Kita Cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.
* Pengantar Menuju Maksiat dan Zina
Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (ValentineDays) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.
Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra’ : 32)
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
"Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4935), dan Muslim dalam Shohih-nya (1241)] .
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ
"Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya". [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (486). Di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (226)]
* Menciptakan Hari Rari Raya
Merayakan Velentine Days berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih -nya (2697)dan Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Allah -Ta’ala- telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,
"Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (QS.Al-Maidah :3 ).
Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,
قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)] .
Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim-hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, "Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu ".[Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada'at fi Al-Ibadat (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]
Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan Valentine Days ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 51 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
Langganan:
Postingan (Atom)